"

Sunday, July 29, 2012

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Setelah sebelumnya saya memposting tentang sejarah Kehancuran Khulafaur Rasyidin, sekarang saya bermaksud untuk mentapk tilasi perjuangan seseorang mujahid banua yang sosoknya amat saya kagumi, beliau adalah Pangeran Antasari bin Pangeran Mashod.

Sekilas Antasari
Seorang pejuang yang cerdas dan gagah berani, keturunan bangsawan yang berprilaku marekyat, seorang ulama yang taat beribadah, dialah Pangeran Antasari yang ketika kecilnya dikenal dengan nama Gusti Inu, dilahirkan sekitar tahun 1800, dialah putra Pangeran Mashod, cucu pangeran Amir dan mempunyai hubungan sebagai saudara misan dengan pangeran Hidayatullah. Ibunya bernama Gusti Khadijah, putri dari Sulthan Sulaiman. Ketika kecilnya, ia hidup dilingkungan Kraton Kesulthanan Banjar yang berada di Antasan Senor, Martapura.
Tetesan darah seorang mujahid menentang Kolonial Belanda yang telah menjajah tanah Kalimantan mengalir didalam tubuh Pangeran Antasari, sebab beberapa tahun sebelumnya, Pangeran Amir, kakeknya, pada awal tahun 1787 telah melancarkan jihad dengan mengerahkan pasukan sekitar 3.000 orang. Namun pasukan Kolonial Belanda dibawah pimpinan Kapten Christoffel Hopman yang memiliki persenjataan lengkap berhasil mematahkan pemberontakan dan mengalahkan pasukan Pangeran Amir. Dan dalam sebuah kontak senjata yang menentukan pada tanggal 14 Mei 1787 kakek Pangeran Antasari berhasil ditangkap, dan kemudian beliau dibuang ke Ceylon, Srilangka.
Dibuangnya sang kakek kepengasingan yang amat jauh dan campur tangan Belanda dalam semua urusan kesulthanan Banjar mengukir dan mengkristalkan kebencian didalam sanubari Gusti Inu terhadap Kolonial kafir ditanah banua.


Penyerangan pertama
 Pangeran Hidayatullah yang pada saat itu menjabat sebagai Mangkubumi ( kira-kira setingkat perdana mentri) di Kesulthanan Banjar, mengutus tiga orang kedaerah-daerah guna menyelidiki motif gerakan rakyat, apakah terarah kepada Kesulthanan ataukah terhadap kolonialis Belanda. Salah satu utusan tersebut adalah Pangeran Antasari, beliau mendapati bahwa motif gerakan rakyat itu justru membela eksistensi Kesulthanan. Kesempatan ini sangat membuka jalan bagi Pangeran Antasari guna melakukan berbagai kontak guna menghimpun gerakan diberbagai wilayah. Pangeran Antasari meninggalkan lingkungan Kesulthanan Banjar dan secara diam-diam menggabungkan diri dengan kelompok gerakan dipedalaman.
Dalam waktu yang relatif singkat ternyata Pangeran Antasari menjadi seorang pemimpim yang berani dan berwibawa. Karena kemampuannya dalam menguasai medan, sekaligus selaku pucuk pimpinan yang membagi-bagi wilayah perlawanan dan menetapkan pimpinan sektor-sektor pergerakan.
Demang Lehman untuk daerah Tanah Laut dan Hulu Sungai yang dibantu tumenggung Antaluddin, Kia Suta Karsa, Pangeran Citra Kesuma, Kiai Raksa Pati, Pangeran Singa Terbang dan seorang Srikandi Cakra Wati. Wilayah Barito, Kapuas  dan Kahayang dengan pimpinan Surapati, Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said, Singapati, Mas Anom, Tumenggung Kartapati dan Mangkusari.
Gerakan rakyat yang keras dipimpin oleh Panembahan Datu Aling diwilayah Muning juga berhasil disatukan oleh Pengeran Antasari dengan pimpinan Tumenggung Jalil yang menguasai Banua Lima (Negara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kelua).
Pagi-pagi buta pada tanggal 28 April 1859 terjadilah serangan pertama yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari, beliau menggempur benteng Belanda di Pengaron dengan hanya berkekuatan 300 orang. Dan pada serangan yang berlangsung sampai siang ini, Pangeran Antasari berhasil memenangkanya dan membebaskan pertambangan batu bara diwilayah tersebut, namun Komandan Beeckman pimpinan tentara belanda diwilayah itu berhasil melarikan diri.
Serangan pertama ini tercatat didalam dokumen Pemerintahan Nederlands Indie (Hindia Belanda) sebagai awal mulanya Perang Banjarmasin (Banjarmasinsche Krijg) yang berlangsung selama 4 tahun sampai tahun 1863, namun sesungguhnya Perang Banjar berlangsung selama 46 tahun, sampai tahun 1905, saat gugurnya Sulthan Muhammad Seman sebagai Raja Banjar terakhir.
Pangeran Antasari selaku pucuk perjuangan rakyat banjar selalu berpindah-pindah tempat, selain untuk menghindari pencarian Belanda, beliau juga diharuskan untuk merorganisir seluruh pasukannya yang tersebar diseluruh wilayah. Oleh sebab itu terdapat banyak sekali benteng-benteng pertahanan bekas peninggalan pasukan Pangeran Antasari diberbagai tempat, diantaranya : Benteng Tungka, Benteng Tundakan, Benteng Terubang, Benteng Gunung Sangsulit, Benteng Liang Umbang, Benteng Bayan Begok, dan lain-lain.

Sepuluh Ribu Gulden
Daerah perlawanan Barito yang dipimpin oleh Tumenggung Surapati yang dibantu oleh Suku Dayak berhasil menenggelamkan kapal perang belanda Onrust di Muara Teweh. Belanda dibawah pimpinan Komandan Van der Velde makin penasaran kerena ia mengetahui bahwa wilayah Barito juga tidak lepas dari daerah perlawanan Pangeran Antasari. Dia bemaksud untuk menjebaknya.
Belanda tidak dapat menganggap remeh terhadap Pangeran Antasari yang telah banyak merugikan mereka, oleh sebab itu pihak Kolonial menghargai kepala Pangeran Antasari sebesar f. 10.000,-(Sepuluh ribu gulden). Tak seorangpun dari kalangan rakyat Kalimantan tertarik dengan tawaran itu, bagi mereka Pangeran Antasari jauh lebih penting dari hidup mereka sendiri, sebaliknya mereka justru terus membantu gerakan ini semampu mereka. Semua terbukti ketika meningkatnya intensitas serangan disudut-sudut wilayah terpencil, dan Belanda pun dibuat semakin kerepotan.
Belanda mengubah sikap dengan bujukan agar Pangeran Antasari mau memohon ampun dan akan dibebaskan dari segala tuntutan, menanggapi tawaran Belanda ini Pangeran Antasari mengirimkan surat balasan yang hanya bertuliskan "Haram Manyarah Lawan Walanda"(Haram Menyerah dengan Belanda) kepada Gezahhebber, penguasa Belanda didaerah Bakumpai, Marabahan. Hal ini semakin membuat Belanda berang dan semakin penasaran dengan sosok Pangeran Antasari.
Gerakan perlawanan terhadap Kolonial Belanda yang dipimpin Pangeran Antasari tidak pernah sepi, baik yang dipimpin langsung oleh beliau atau oleh pemimpin-pemimpin setempat diberbagai wilayah. Pada tanggal 8 Februari 1860 dengan 6 buah kapal besi, Belanda mengadakan perondaan di Muara Lahui. Perondaan ini tidak menguntungkan bagi kolonialis, karena Pangeran Antasari dengan anak buahnya yang memang lebih menguasai medan, menyerang dan berhasil menewaskan berpuluh-puluh serdadu Belanda.
Lima bulan kemudian, pada bulan juli 1860 PangeranAntasari menyerang benteng Belanda di Batu Mandi yang berhasil menewaskan komandan Van den Bosch dan Kopral Koudijs serta serdadu lainnya.
Pada tanggal 4 Mei 1861 terjadi pertempuran didaerah Paringin yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari. Serangan diarahkan kebenteng Belanda dan berhasil menewaskan Komandan Van der Wijck yang digelari rakyat Singa Paringin kerena kebengisannya terhadap rakyat
Dua bulan kemudian pada tanggal 1 juni 1861 disaat Pangeran Antasari sedang berada didaerah Barito terjadi kontak senjata dengan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Stocker. Malang bagi Kolonial Belanda, karena kali ini mereka kembali dirugikan dengan terbunuhnya Kapten Stocker beserta anak buahnya dimedan perang.

Pemimpin Agama dan Kematian 
Pangeran Antasari yang dikenal tidak saja sebagai pemimpin pejuang yang gagah berani adalah pula pemimpin agama yang bertaqwa. Dalam bulan suci Ramadhan 1278 H, tepatnya tanggal 14 Maret 1862, oleh rakyat daerah Barito, Sihong, Murung, Teweh, Kapuas, Kahayan dan Dusun Hulu, Pangeran Antasari dinobatkan menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dengan semboyan "Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah". Para pemuka yang mengumumkan itu antara lain adalah Kiai Di Pati Jaya Raya, Raden Mas Warga Nata Wijaya, Haji Muhammad Khalid, Tumenggung Surapati dan Tumenggung Mangkusari
Dalam kurun waktu yang cukup lama perlawanan Pangeran Antasari bersama dengan anak buahnya berupaya untuk mengembalikan otoritas Kesulthanan Banjar yang sedang dijajah oleh Belanda belum juga mendapatkan hasil yang maksimal, namun perjuangan mereka patut untuk dikenang dan diingat oleh setiap sanubari insan banua, karena perjuangan mereka mengingatkan kita pada semangat pantang menyerah yang seharusnya diwarisi oleh generasi penerus banua sekarang.
Pangeran Antasari sudah semakin tua dan lemah, namun semangatnya tertancap dalam dihati para prajuritnya yang akan terus melanjutkan tongkat estapet perjuangan beliau. Pada tanggal 11 Oktober 1862 beliau wafat didesa Bayan Begok, Muara Teweh. 
Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya kedalam surga bersama dengan para ambiya, syuhada dan sholihn.
Ya Allah, pertemukanlah kami dengannya nanti disurga. Amin.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya!!!

Artikel ini bersumber dari buku PANGERAN ANTASARI DAN MELETUSNYA PERANG BANJAR oleh Drs. H. Syamsiar Seman. Saya saran kan untuk membaca buku aslinya, karena lebih asyik..:)

Seperti kata pengarang, Pangeran Antasari tidak pernah mempunyai foto karena beliau tidak pernah tertangkap oleh belanda.


 


No comments:

Next Prev home